09//
“ Kisah Abadi ”
bila bertanya mengapa tak pernah ingin memiki rasa kembali, jawabannya tentu karena lelah berkuasa. kawan, saya tahu tidak ada yang salah dari sebuah rasa, tapi bila berkali-kali sang Cipta berkata tidak.. mengapa tak menunggu saja?
sering kali dunia memberi asa tanpa menampakkan dimana pelangi akan ada. tapi inilah bagian dari sebuah perjuangan. bukan, bukan perjuangan untuk menuntaskan asa, tapi perjuangan untuk sebuah keyakinan. bila rasa kecewa sudah menghujam bertubi-tubi, disana kau harus menunjukan keyakinanmu bahwa pelangi akan ada suatu saat nanti meski kau tak melihat secercah harapan pada asamu.
menghabiskan waktu untuk meminta sang Cipta mewujudkan keinginan baiknya begitu memakan banyak perjuangan. terbangun di sepertiga malam terakhir dan melukis surat pada-Nya selama seratus enam puluh depan hari pun membuahkan hasil penuh kecewa. tapi memang ini yang terbaik. memohon kebaikan untuk seseorang yang bahkan tak mengenal siapa diriku adalah bagian dari kisah abadi ini.
saya berharap, segala puisi bahkan cerita yang tak pernah tuntas untuknya dapat menjadi cara untuk mengabadikan kisah ini.
bila sudah tak ingin memiliki rasa, tak berarti akan menciptakan kata hampa. biar kata memantaskan diri saja yang ada pada setiap sujud pada-Nya, bukan lagi kata bersama dengannya. menunggu dengan memperbaiki segalanya adalah cara terbaik untuk menghindar dari kata kecewa.
dan bila semua perjuangan sudah menghasilkan kecewa, biar saja semua menjadi kisah di masa lalu pada bagian masa lalu. izinkan seratus enam puluh delapan hari permohonannmu menjadi sebuah kisah abadi.
19/10
Comments
Post a Comment