Bagian I

“ Kembali Mengarungi Lautan Aksara Dalam Paragraf ”

        Untuk saya, memiliki mu adalah bagian terbaik dalam hidup saya. Untuk saya, bahagia bersama mu menjadi bahagia paling abadi. Jingga, akhirnya saya kembali terjebak ke dalam angan-angan nyata di dunia peri ini. Dan akhirnya, saya kembali menjadi kan nama Jingga sebagai tokoh utama tak nyata keseharian. Kembali merangkai aksara untukmu dalam senandika pun, menjadi kesibukan untuk saya.

        Masih saya ingat sekali hari itu tepat dua tahun lalu, menjelang gelapnya nabastala saya menemui mu. Kala itu banyak sekali topik di antara bincang kita. Disisi lain, di dalam kalbu semakin tercipta sebuah ambivalen karena sikap mu yang sesekali membuat saya terbang tinggi menemui bagaskara, kemudian terjatuh kembali mengecup tanah bersanding gelabah.

  Saya merasa bangga karena bertahun-tahun menyembunyikan segala rasa dan melakukan banyak sekali adorasi dibalik kata baik baik saja. Kenyataannya, berpura-pura bahwa rasa ini tidak ada lebih menyakitkan dibanding menghadapi sikap mu yang selalu membuat saya mengecup tanah bersama isak tangis. Entah sampai mana padika-padika yang saya buat. Bahkan saya sampai lupa masih begitu banyak cerita yang belum tuntas. Karena memang sebenarnya dirimu selalu memilih untuk tidak membuat akhir cerita.

        Hingga esok saya bertemu mentari di ufuk barat, tersadar ditepi jalan, di tabrak kenyataan, bersama rudira yang mengalir begitu deras dari tubuh, karena mengetahui bahwa ini semua tak pernah menjadi nyata. Saya masih mencoba bertanya pada rucita lintang di atas nabastala malam apakah benar bahwa sosok Jingga untuk saya hanya sebatas tokoh nyata dunia peri saya?. Saya gemetar menanti jawab lintang, saya melihat bahwa ia hanya bergeming. Di dalam batin, saya memaksanya untuk mengatakan bahwa ini semua nyata. Hingga akhirnya, lintang menjawab bahwa saya ; hanya terjebak dalam asmaraloka di dalam suar yang semakin membakar dan hanya membawa mala.

        Duduk bersama mu, bincang di antara kita, pertemuan yang membawa harsa, itu semua hal nyata dalam buku dongeng saya. Kenyataannya, dua tahun lalu saya hanya memandangmu kagum di kejauhan bersama dialog-dialog palsu dalam hati. Menganggap bahwa kau tak jauh dari saya, karena memang sosok Jingga selalu bersanding dengan saya. Mencoba menjelma sosok apatis untuk menghilangkan rasa saya pada mu, Jingga, hanya membuat keseharian ini menjadi terdayuh. Bisa dibayangkan bagaimana jika suatu hari nanti saya menghilangkan mu dalam list prioritas.

        Dialog-dialog kebohongan itu selalu saya ciptakan dan kian lama menjadi sebuah bayang-bayang menyeramkan. Kalimat mu yang menyatakan bahwa dirimu memiliki perasaan yang sama dengan saya, kalimat manis mu yang selalu menenangkan saya dikala gelisah, bak janji manis yang terarung oleh ombak dipesisir pantai. Saya terjebak, oleh perasaan jatuh cinta di dalam setiap paragraf tentangmu dan patah hati di dunia nyata. Saya dawana denganmu saban waktu. Rasanya, atma ini telah menjelma sosok kalimat tak pasti yang terus-menerus tergurat dengan pasti. Jingga, kisah mengerikan ini telah kembali.

Kamis, 28 Januari 2021

Comments

Popular Posts