Bagian III

 “ Pada hari Milikmu ”

Dulu sekali, aku hanyalah sebuah pohon tanpa daun, tanpa ranting. Dulu aku hanyalah sebuah batang tanpa adanya rasa kuat untuk menopang, yang bahkan hanya diriku sendiri. Mati tak mau hidup pun tak segan, satu kalimat yang menggambarkanku. Tak ada hal lain yang bisa ku lakukan ketika sedih, selain menciptakan kesengsaraan pada diri sendiri.

Suatu ketika, berbekal rasa penasaran padamu aku memulai semuanya dari awal. Kembali ku pupuk tanah tempatku berdiri, kembali ku sirami diri ini dengan kajian-kajian religi. Jangan tanya kenapa, bahkan sampai detik aku menulis paragraf ini pun, aku masih tidak mengerti apa alasannya. Bahkan aku masih saja tidak mengerti apa alasan Tuhan mengirimkanmu dalam tulisanku. Entah hanya sebagai topik, atau pemeran utama.

Kehidupan ini berputar pada porosnya. Secara tidak langsung, aku telah menjadikanmu sebagai poros bagaimana aku melangkah, bagaimana aku berusaha. Memang tidak banyak hal yang kau lakukan untukku, bahkan kau tak pernah melakukan apapun untukku. Tapi sosokmu, segalanya bagiku. Kau bahkan tidak pernah menyapaku dengan sengaja. Kau bahkan tak tahu aku sudah berada di titik yang luar biasa saat ini.

Pernah aku katakan, bahwa kau adalah bahagia abadi untukku. Aku tidak tahu haruskah aku menangis bahagia, atau bersedih. Disisi lain aku bangga dengan diriku sendiri hingga aku mencapai titik ini, tapi disisi lain aku sedih karena kau tidak pernah mengetahuiku bahkan rasaku. Meski kau tidak pernah menjadi milikku di dunia nyata, tapi kau sudah sangat membantuku dalam banyak hal. Memberiku motivasi, membantuku melayakkan diri ini, bahkan kau mengingatkanku bahwa aku harus kembali kepada jalanku. Bahkan sebenarnya kau tidak pernah mengatakan apapun kepadaku. Lucu bukan?. Kau sosok yang luar biasa untukku.

Aku bahagia memilikimu meski hanya di dalam tulisanku. Hanya dengan kepribadianmu, yang bahkan sama sekali tidak selaras denganku, kau mampu mengubahku untuk menjadi baik. Kesabaranmu, salah satu hal yang kau miliki itu cukup membuatku kagum. Tidak akan pernah menjadi masalah bila sampai suatu hari nanti kau tidak membaca suratku. Karena sejak dua tahun lalu aku sudah belajar akan arti tulus menyayangimu, dengan cara tanpa memiliki. Sedalam apapun sebuah rasa, tidak akan pernah menjadi masalah ketika pada kenyataannya tidak bisa terbalaskan, karena sang pemilik rasa sudah memutuskan untuk menjadi tulus. Aku tahu bahwa kata bahagia tidak harus dicapai dengan kata bersama. Terima kasih untuk sosokmu yang sangat luar biasa, selamat ulang tahun.

Selasa, 6 April 2021

Tepat dini hari.

Comments

Popular Posts