Bagian II

 “ Paragraf Kacau ”

Sebenarnya, aku sudah tidak tahu darimana aku akan memulai paragraf dan sudah tidak tahu lagi akan memulainya dengan apa. Begitu banyak bahagia yang kurajut sendiri dan setelahnya, aku kembali menyadarkan diriku bahwa setiap kebahagiaan yang kurajut untuk kutulis pada paragrafku, tidaklah nyata. Aku tidak tahu apakah kali ini aku akan mengguratkan sengsara, atau gemercik bahagia, untukmu. Ini sungguh sulit untukku, mencoba bahagia ketika kau memilih bahagia tanpaku, tapi ini adalah cara terbaik bagaimana aku menyayangimu.

Beberapa orang mengatakan bahwa aku hanyalah membuang banyak waktu dan hanya membohongi perasaanku. Beberapa orang mengatakan pula bahwa aku terlalu bersemangat untuk membiarkan rasa ini masuk semakin dalam menembus nadi. Begitu pula denganmu, aku yakin bahwa ketika kau mengetahui apa yang telah terjadi padaku kau kan mengatakan bahwa aku gila. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan sama sekali belum mengetahui siapa aku bisa menjadi topik utama dalam setiap paragrafku?. Aku ingin sekali menggambarkan betapa bahagianya aku ketika menulis tentangmu. Tunggu, bukannya aku selalu menuliskan kesedihan? baiklah kita akan berhenti sampai disini. Bahagiaku mengenalmu, akan menjadi sebuah perbincangan khusus pada hari selasa nanti.

Tepat 24 jam yang lalu, aku mengetahui kenyataan bahwa sepertinya kau lebih nyaman tinggal dirumah lamamu. Bahkan kau tidak mencoba untuk mencari rumah baru. Padahal begitu banyak rumah-rumah dengan cat warna-warni yang menanti. Bahkan, ada satu rumah yang selalu menanti untuk kau singgahi. Sulit sekali dimengerti apa yang spesial dari rumah itu. Apakah rumah tersebut memiliki pagar yang kokoh untuk melindungimu? atau kau menyukai desain interiornya yang selaras dengan kepribadianmu? atau bahkan, desain eksterior itu membuatmu bangga ketika kau ditanya, dimana tempat tinggalmu?.

Aku rasa segala asumsi ini sudah sangat membuatku gila. Bahkan aku sudah tidak bisa membedakan mana yang waras dan tidak. Hari demi hari selalu saja kuciptakan asumsi mengenai kau bersama rumah itu. Aku sempat melihatmu pergi jauh berkelana dengan waktu, kukira ketika kau kembali kau akan pergi mencari tempat tinggal yang baru. Kenyataannya tidak, kau masih menyimpan begitu banyak perkakas pada rumah lama itu. 

Aku juga sempat melihat bahwa tempat tinggalmu itu, dihuni oleh seorang pengusaha gagah. Ketika pengusaha tersebut pergi jauh, ternyata dengan senantiasa kau kembali. Entah untuk tujuan apa, entah sebesar apa rasamu padanya, tapi kau memilihnya kembali. Tidak aku tidak mempermasalahkan tempat tinggalmu, yang menjadi kegelisahanku adalah rasamu pada rumah ber-eksterior serba putih itu. Ia bak gedung bertiang kokoh tanpa goyah, sama seperti rasamu yang selalu kokoh untuknya tanpa ada kegoyahan.


Sabtu, 3 April 2021

Pukul 6 sore.

Comments

Popular Posts